
Review by Arian 13
Finally, ada juga yang mampu membuat film slasher lokal keren! Terima kasih untuk seorang teman yang nyalinya menciut dan memberikan invitations-nya untuk saya yang telat dan kehabisan tiket. Lucky me & my girlfriend, premiere film ini adalah versi uncut, sementara versi resmi 22 Januari 2010 kemungkinan besar akandi-slash [sorry, can’t help it! :D] oleh BSF.
Kembali ke film karya Mo Brothers [Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel], Rumah Dara [versi internasionalnya, Macabre] merupakan film yang akan menjadi klasik. Rumah Dara sendiri, diinspirasikan dan dikembangkan dari film pendek Dara yang disutradarai oleh Mo Brothers beberapa waktu lampau.
Cerita sendiri memang tidak istimewa, tapi sangat klasik: 6 sahabat-kurang lebih, Layla [Julie Estelle], Eko [Dendy Subangil], Alam [Mike Muliardo a.k.a. VJ Mike], Jimmy [Daniel Mananta a.k.a. VJ Daniel], kakak Layla-Adjie [Ario Bayu] dan istrinya Astrid [Sigi Wimala], menolong seorang gadis yang mengaku baru dirampok, Maya [Imelda Therinne], di tengah perjalanan pulang, dan diantar ke rumahnya dimana ibunya, Dara [Shareefa Daanish], dan 2 kakaknya, Arman [Ruli Lubis] dan Adam [Arifin Putra].
Mereka dijamu makan malam, dan berikutnya kebaikan hati malah mengantar mereka kepada bencana. Adrenalin penonton mulai dibuat naik dan tidak diijinkan menurun. Tentu saja satu per satu mereka dibantai, dan seperti cerita Dawn Of The Dead, misalnya, cerita menjadi tidak penting lagi, tapi yang penting adalah survival. Beberapa orang berpendapat kalau terlalu banyak darah dalam film ini, tapi saya kira masih sebatas kewajaran, dan memang perlu [lebih dari 10 orang dibantai, of course there will be a pool of blood, you pussies!].
Tidak seperti film-film Indonesia pada umumnya dimana alur cerita menjadi dragging, Rumah Dara justru tidak memberikan celah untuk hal ini. Adrenaline rush ini mampu membuat fans film slasher terpaku di kursinya, takut, tapi sebenarnya opsi untuk meninggalkan kursi selalu ada [hey, sesaat setelah adegan gore pertama berjalan, ada sekitar 20 orang yang meninggalkan kursi mereka, menyerah]. Dan tidak hanya adegan-adegan gore-nya, adegan action-nya juga bisa dibilang sempurna dan terlihat natural.
Nyaris tidak ada cela terutama untuk tim artistik film ini, tidak ada darah yang seperti darah palsu [total ace untuk tim efek spesial!], tata riasnya juga top notch [simak tata rias Julie Estelle di akhir-akhir film!]. Sepertinya, kalau memang punya niat untuk membuat film berkualitas, seharusnya memang bisa dan Mo Brothers telah membuktikannya. Film horor lokal telah dianiaya oleh para cheap filmmaker lokal, dan sudah saatnya diambil alih oleh Mo Brothers.
Tentu saja ada beberapa kekurangan dalam film ini, seperti beberapa continuity yang terlewat, atau misalnya perut Astrid yang hamil tua masih terlihat kurang real, dan untuk saya, tone suara Dara agak kurang ok [mungkin lebih berlaku untuk penonton internasional], dan lambang ouroboros yang digunakan oleh keluarga Dara bisa lebih sedikit diperkuat latar belakangnya dan hubungannya dengan kesadisan mereka. Tapi semua kekurangan ini terasa minor, karena kita akan puas disuguhkan aksi horor yang tanpa jeda.
Fans Evil Dead, Texas Chainsaw Massacre, Suspiria, slasher Jepang, dan sejenisnya akan menyukai film ini, sementara untuk fans film-film cult seperti The Gore Gore Girls, The Corpse Grinders, atau Cannibal Holocaust, juga akan tercengang. Bayangkan film-film cult tersebut diberi budget bagus dan artistik canggih, kita akan mendapatkan Rumah Dara. Menonton film ini merupakan rasa stres saya yang paling nikmat untuk tahun ini. Ada yang lelah menonton ini? Feel free to go, wimp. :D
Hey Mo Brothers, how about zombie bikers flick? Atau, brain-eating aliens mendarat di Gedung DPR dan membantai seisi gedung? I’m sure it’ll be fukking exciting! Let the bloodbath begins!
*selama menulis review ini, saya mendengarkan lagi secara acak old school death metal & grindcore klasik: Repulsion, Carcass, Autopsy, Death, Grave dan the mighty Entombed! It fits the slasher feeling. ;)