Laiknya badai salju di Jeddah
Engkau bagiku adalah nihil terbesar yang pernah hijrah
Di jemariku engkau sudah berkali-kali mampus musnah
Tapi kemaluanmu terlalu besar untuk mengaku kalah
Mungkin Hitler benar adanya, kalau berkumis sepotong itu seksi
Dan hujan di Sahara adalah basi
Tapi mohon jangan berairmata kalau aku sudah tidak disini nanti
Karena cintaku tetap untuk klub sepakbola berkostum merah di Manchester hingga mati
Maaf kalau aku kerap terbaca sedikit binal
Karena siapa tahu aku pernah menenggak darah Morrisson Si Raja Kadal
Dan hingga kini tanganku tetap mengepal meninju udara demi kata tidak untuk menjadi banal
Seperti kata Asmuni, itu hil yang mustahal
Akhirul kalam,
Nikmati saja surgawimu yang seringkali kau kutuk saat malam mengelam
Sebab bagi pemerintah, tidak ada yang lebih seram
Dari sebatang Djarum Super yang terbakar di tangan Pram